Selasa, 10 Januari 2012

kabar gembira untuk umat manusia

VIVAnews - Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience, tingginya emisi karbon dioksida di atmosfir menandakan bahwa zaman es berikutnya di Bumi tidak akan dimulai setidaknya dalam waktu 1.500 tahun ke depan.

Konsentrasi gas yang menjadi kambing hitam atas pemanasan global yang mencatat rekor tertinggi pada tahun 2010 lalu itu akan terus hadir di kawasan atmosfir selama beberapa dekade ke depan. Bahkan menurut PBB, gas itu akan tetap ada di sana meski kita berhenti membakar saat ini.

Seperti diketahui, zaman es merupakan periode di mana terjadi penurunan temperatur atmosfir dan permukaan bumi untuk jangka panjang. Ia menyebabkan meningkatnya lapisan es di kutub dan gletser. Bumi sendiri setidaknya telah mengalami 5 kali zman es. Di antara 5 zaman es tersebut, ada siklus di mana lapisan es menebal dan menipis.

Saat ini, Bumi tengah berada di masa interglacial, atau jeda antar zaman es atau ada di periode hangat yang berlangsung selama 10 ribu sampai 15 ribu tahun. “Dari analisa, hasilnya mengindikasikan bahwa akhir periode interglacial akan terjadi dalam 1.500 tahun ke depan dengan syarat konsentrasi CO2 di atmosfir tidak lebih dari 240 ppmv,” sebut laporan itu.

Dikutip dari Reuters, 10 Januari 2012, konsentrasi karbon dioksida di atmosfir saat ini mencapai 390 parts per million by volume (ppmv). “Pada tingkat ini, penambahan volume lapisan es tidak dimungkinkan,” sebut peneliti.

Dalam studinya, peneliti dari Cambridge University, University College London, University of Florida, dan University of Bergen, Norwegia menganalisa sampel bebatuan dan variasi yang terjadi di orbit Bumi.

Penyebab munculnya zaman es sendiri belum bisa dipahami secara penuh. Namun konsentrasi metana dan karbon dioksida di atmosfir, perubahan orbit Bumi di sekitar Matahari, serta pergerakan pelat tektonik diperkirakan memberi kontribusi terhadap munculnya zaman dingin membeku tersebut. (adi)
• VIVAnews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar